DENI YUNIARDI

DENI YUNIARDI







Sabtu, 31 Desember 2011

MEMBACA NYARING DAN MEMBACA DALAM HATI

A.  Membaca Nyaring
1.      Pengertian
Membaca nyaring adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid,ataupun pembaca bersama-samadengan orang lain atau pendengaruntuk menangkapserta memahami informasi,pikiran,dan perasaan seorang pengarang.(Tarigan1978:23).
Dalam membaca nyaring, selain penglihatan dan ingatan,juga turut aktif auditory memory(ingatan pendengaran) dan motor memory (ingatan yang bersangkut paut dengan otot-otot kita).(Multon,197  0:15 dalam Tarigan 1979:23).
Membaca nyaring adalah sebuah pendekatan yang dapat memuaskan serta memenuhi berbagai ragam tujuan serta mengembangkan sejumlah keterampilan serta minat.Oleh karena itu, dalam mengajarkan keterampilan-keterampilan membaca nyaring, guru harus memahami proses komunikasi dua arah.Lingkaran komunikasi belumlah lengkap jika pendengar belum memberi tanggapan secukupnya terhadap pikiran atau perasaan yang diekspresikan oleh pembaca.Memang tanggapan tersebut mungkin hanya dalam hati, tetapi bersifat apresiatif,mempunyai nilai apresiaisi yang tinggi.(Dawson (et al) 1936:215-216).
Pembaca harus memahami aksara di atas kertas seta memproduksikan suara yang tepat dan bermakna.Membaca nyaring pada hakikatnya merupakan suatu masalah lisan atau oral matter.Oleh karena itu, dalam pengajaran bahasa asingaktivitas membaca nyaring lebih ditujukan pada pengucapan (pronounciation) daripada pemahaman (comprehension).mengingat hal tersebut, maka bahan bacaan haruslah dipilih yang mengandung isi dan bahasa yang relatif mudah dipahami.(Broughton(et al) 1978:91).
Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita perhatikan bahwa kegunaan membaca nyaring sangat terbatas.sedikit orang yang dituntut membaca nyaring dalam kegiatan rutin sehari-hari, seperti penyiar radio, pembicara televisi,pengacara, atau pastor.Demikianlah, dari segi mayoritas, kegunaan atau kepentingannya memang terbatas.(Broughton (et al) 1978:92)

2.      Keterampilan-keterampilan yang Dituntut Dalam Membaca Nyaring
Dalam pembahasan sebelumnya telah dikemukakan bahwa membaca nyaring menuntut berbagai keterampilan.Daftar keterampilan berikut ini sangat menolong para guru dalam menjalankan tugasnya untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam membaca nyaring.(Tarigan 2008:25).
Kelas I:
1)      Mempergunakan ucapan yang tepat;
2)      Mempergunakan frasa yang tepat(bukan kata demi kata);
3)      Mempergunakan intonasi suara yang wajar agar makna mudah terpahami;
4)      Memiliki perawakan dan sikap yang baikserta merawat buku dengan baik;
5)      Menguasai tanda-tanda baca sederhana seperti:
titik(.)
koma(,)
tanda tanya(?)
tanda seru(!).                

Kelas II:
1)      Membaca dengan terang dan jelas;
2)      Membaca dengan penuh perasaan,ekspresi;
3)      Membaca tanpa tertegun-tegun,tanpa terbata-bata,
Kelas III:
1)      Membaca dengan penuh perasaan,ekspresi;
2)      Mengerti serta memahami bahan bacaan.
Kelas IV:
1)      Memahami bacaan pada tingkay dasar;
2)      Kecepatan mata dan suara:tiga patah kata dalam satu detik.
Kelas V:
1)      Membaca dengan pemahamn dan perasaan;
2)      Aneka kecepatanmembaca nyaring bergantung pada bahan bacaan;
3)      Dapat  membaca tanpa terus menerus melihat pada bahan bacaan.   
Kelas VI:
1)      Membaca nyaring dengan perasaan atau ekspresi;
2)      Membaca dengan penuh kepercayaan (pada diri sendiri) dan mempergunakan frase atau susunan kata yamg tepat.(Barbe and Abbot 1975:156-167;Dawson (et al) 1936;216).

3.      Peningkatan Keterampilan-keterampilan Dalam Membaca Nyaring

Pembaca nyaring yang baik biasanya ingin sekali agar pendengarnya memahami apa yang ia sampaikan.Oleh sebab itu, pembaca hendaklah mengetahui keinginan serta kebutuhan pendangarnya,serta menginterpretasikan bahan bacaan secara tepat.(Tarigan 2008:27).

Agar dapat membaca nyaring dengan baik, pembaca haruslah menguasai keterampilan-keterampilan persepsi(Penglihatan dan daya tanggap) sehingga dia mengenal dan memahami  kata-kata dengan cepat.Yang sama pentingnya dengan hal ini adalah kemampuan mengelompokkan kata-kata ke dalam kesatuan-kesatuan pikiran serta membacanya dengan baik dan lancar.Untuk membantu para pendengar menangkap serta memahami maksud pengarang , pembaca biasanya menggunakan berbagai cara, antara lain:
1)      Dia menyoroti ide-ide baru dengan mempergunakan penekanan yang jelas;
2)      Dia menjelaskan perubahan dari satu ide ke ide lainnya;
3)      Dia menerangkan kesatuan kata-kesatuan kata-kata yang tepat dan baik;
4)      Menghubungkan ide-ide yang bertautan dengan jalan menjaga suaranya agar tinggi sampai akhir dan tujuan tercapai;
5)      Menjelaskan klimaks-klimaks dengan gaya dan daya ekspresi yang baik dan tepat.

Kebanyakan guru dapat memahami hal di atas.Namun sayang, kebanyakan membaca nyaring di dalam kelas terarah pada stu tujuan penilaian.Sebagai tambahan, terdapat suatu penekanan pada kecepatan sebagai suatu indikasi atau petunjuk pertumbuhan sang anak.Tidak mengherankan apabila sedikit sekali kegiatan membaca nyaring yang baik dan menarik.

Keterampilan membaca nyaring akan berkembang secara wajar, secara alamiahdalam membaca drama.Membaca drama menambah sejumlah nilai pada pembaca, antara lain:
1)      Memperoleh kesenangan dalam dramatisasi yang terlihat pada pemupukan keyakinan anak-anak sehari-hari;
2)      Memperkaya daya khayal, imajinasi dalam membaca fiksi;
3)      Menanamkan disiplinyang tidak terdapat pada jenis-jenis membaca lainnya;
4)      Mempertiggi pemahaman, pengembangan kosa kata,membaca frase/paragraf,ekspresi/perasaan,serta keterampilan-keterampilan berbicara secara umum.(Tarigan 1978:28).

Membaca drama menuntut pembaca memadukan antara bahasa verbak dan non verbal, menjiwai dan menghadirkan dirinya pada teks, siap siaga dengan kalimat berikutnya dan tanggap dengan respon selanjutnya.Anak tidak akan mampu menyampaikan maksud teks dengan tepat bila ia tidak memahami maksud teks tersebut.Oleh sebab itu, anak berusaha mengenali tanda-tanda yang terdapat dalam teks, menafsirkannya dengan imajinasinya.Bacaan elementer modern biasanya memuat drama-drama yang disusun untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.Akan tetapi,jangan dilupa bahwa anak-anak membutuhkan pengalaman lebih banyak dengan bacaan.(Anderson 1972:98-99)

B.     Membaca Dalam Hati

1.       Hakikat Membaca Dalam Hati

Membaca  dalam hati pada dasarnya adalah membaca dengan mempergunakan ingatan visual(visual memory), melibatkan pengaktifan mata dan ingatan.
Tujuan utama membaca dalam hati (silent reading)adalah untuk memperoleh informasi.(Tarigan 2008:30).
Latihan membaca dalam hati harus dimulai sejak anak-anak bisa membaca sendiri.Pada tahap ini anak-anak harus diberikan bacaan tambahan, yang penekanannya diarahkan pada keterampilan menguasai bahan bacaan,memahami ide-ide dengan usahanya sendiri.
Tarigan dalam Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, mengemukakan bahwa membaca dalam hati merupakan kunci bagi semua ilmu pengetahuan.
Bila seseorang dapat membentuk knsep-konsep serta sikap-sikap pribadi, hal itu berarti dia telah memperluas kesatuan-kesatuan pikirannya serta memperoleh dasar pendapat.Dia akan menguasai cerita-cerita dan uraian-uraian sebagai suatu keseluruhan yang dalam kegiatan membaca nyaring kini hanya dapat memahami fragmen-fragmen yang lepas-lepas saja.Pada membaca dalam hati ini, anak mencapai kecepatan dalam pemahaman frase-frase, memperkaya kosa katanya,dan memperoleh keuntungandalam hal keakraban dengan sastra yang baik.Setelah membaca dalam hati, guru dapat menyuruh  murid mengutarakan apa yang telah ia baca, hal ini mempernudahkan pengujian pertumbuhan daya pemahaman apresiasi mereka.(Cole 1950:244-245).
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap anggota msyarakat akan membaca bahan-bahan sesuai dengan selera/pilihannya masing-masing, tanpa paksaan dari pihak lain.Membaca secara perseorangan menurut selera masing-masing ini disebut personalizing reading.Pengajaran  membaca perseorangan atau personalized reading  merupakan  suatu  pendekatan terhadap organisasi kelas.Berdasarkan konsep bahwa setiap anak, setiap orang harus tahu mencari sendiri,melangkah sendiri,maju sendiri,program membaca perseorangan ini  merupakan suatu bagian dari program keseluruhan yang mungkin mencakup program dasar, pengajaran perorangan dan pendekatan pengalaman bahasa.(Barbe and Abbott 1975:23).
Dalam garis besarnya, membaca dalam hati dibagi atas:
1)      Membaca ekstensif;
2)      Membaca intensif.


C.     Membaca Ekstensif
                           
Membaca ekstensif berarti membaca secara luas.Objeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat mungkin.Tujuan dan tuntutan membaca ekstensif adalah untuk memahami isi bacaan yang penting-penting dengan cepat sehingga dengan demikaianmembaca secara efesien dapat terlaksana.(Tarigan 2008:32)
Membaca ekstensif meliputi:
1)      membaca survey (survey reading);
2)      membaca skilas (skimming);
3)      membaca dangkal (superficial reading).

1.      Membaca Survey

Membaca survey  merupakan kegiatan meneliti terlebih dahulu apa yang akan  kita telaah/baca.Kita menyurvey bahan bacaan yang akan kita pelajari, yang akan kita telaah , dengan jalan:
a)      memeriksa, meneliti indeks-indeks, daftar kata-kata yang terdapat dalam buku-buku;
b)      melihat-lihat, memeriksa, meneliti judul-judul bab yang terdapat dalam buku-buku yang bersangkutan.
c)      memeriksa, meneliti bagan, skema,out line buku yang bersangkutan..(Tarigan 2008:33)

2.      Membaca Sekilas

Membaca sekilasatau skimming adalah sejenis membaca yang membuat mata kita bergerak dengan cepat melihat, memperhatikan bahan tertulis untuk mencari serta mendapatkan informasi.(Tarigan 1978:33)

Tujuan membaca sekilas adalah sebagai berikit:
a)      untuk memperoleh  suatu  kesan umum dari suatu buku  atau artikel, tulisan singkat;
b)      untuk menemukan hal tertentu dari suatu bahan bacaan;
c)      untuk menemukan/menempatkan bahan yang diperlukan dalam perpustakaan.(Albert (et al) 1961:30).

3.      Membaca Dangkal
Membaca dangkal atau superficial reading pada dasarnya bertujuan untuk memperoleh pemahaman dangkal yang bersifat luaran, yang tidak mendalam dari suatu bacaan.Membaca dangkal biasanya dilakukan apabila kita membaca untuk kesenangan di waktu senggang; misalnya novel ringan, cerita pendekdan sebagainya.Dalam membaca, seperti halnya membaca karya ilmiah, dapat dilakukan dengan santai tetapi menyenangkan.(Broughton (et al) 1978:92).
Kita telah membahas membaca tiga jenis membaca yang termasuk ke dalam membaca ekstensif.
Membaca ekstensif  ini biasanya dilakukan di luar kelas;tugas-tugas diberikan oleh guru beberapa kali secara teratur, dan di dalam kelas diperlukan sekelumit waktu untuk mengecek atau memeriksa apakah para pelajar mengerti ciri-ciri utama berita tersebut.(Brooks 1964:173).

D.     Membaca Intensif

Membaca intensif atau intensive reading  adalah studi seksama, telaah teliti, dan penangan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek kira-kira dua sampai empat halaman setiap hari. Kuesioner,latihan pola-pola kalimat,latihan kosa kata,telaah kata-kata,dikte,dan diskusi umum merupakan bagian dan teknik membaca intensif.Teks-teks bacaan yang benar-benar sesuai dengan maksud ini harus dipilih oleh guru, baik dari segi bentuk maupun isinya.Para pelajar atau mahasiswa yang berhasil pada tahap ini secara langsung akan berhuungan  dengan kualitas serta keserasian pilihan bahan bacaan tersebut.(Brooks 1964:172-173).
Membaca intensif terbagi atas:
1)      Membaca telaah isi (content study reading);
2)      Membaca telaah bahasa (linguistic study reading).(Tarigan 1978:37).
Tujuan membaca intensif ini adalah untuk memperoleh sukses dalam pemahaman penuh terhadap argumen-argumen yang logis,urutan-urutan retoris atau pola-pola teks, pola-pola simbolisnya;nada-nada tambahanyang bersifat emosionaldan sosial, pola-pola sikap dan tujuan sang pengarang, dan juga sarana-sarana linguistk yang dipergunakan untuk mencapai tujuan.(Tarigan 2008:37)

1.      Membaca Telaah Isi

Menelaah isi suatu bacaanmenuntut ketelitian, pemahaman, kekritisan berpikir, serta keterampilan menangkap ide-ide yang tersirat dalam bahan bacaan.

Membaca telaah isi dapat dibagi atas:
1)      membaca teliti;
2)      membaca pemahaman;
3)      membaca kritis;
4)      membaca ide.


a.      Membaca Teliti

Membaca teliti ini menuntut suatu pemutaran pendidikan yang menyeluruh.Sama pentingnya dengan jenis  kegiatan membaca lain, kita perlu membaca dengan teliti bahan bacaan yang kita sukai.membaca teliti ini membuthkan sejumlah keterampilan, antara lain:
1)      survey yang cepat untuk memperhatiak/melihat organisasi dan pendekatan umum;
2)      membaca secara seksama dan membaca ulang paragraf-paragraf untuk menemukan kalimat-kalimat judul dan perincian-perincian penting;
3)      penemuan hubungan setiap paragraf dengan keseluruhan tulisan atau artikel.

1.      Membaca Paragraf dengan Pengertian

Paragraf yang rapi biasanya mengandung sebuah pikiran pokok.Pikiran pokok tersebut ada yang diletakkan di awal paragraf dan ada pula yang diletakkan di akhir atau di tengah paragraf.Oleh sebab itu,kita perlu mengenali pikiran pokok tersebut serta melihat bagaiman caranya paragraf mengembangkan pikiran tersebut.

Perlu diketahui bahwa terdapat sejumlah cara untuk mengembangkan pikiran pokok suatu paragraf, antar lain:

a)      dengan mengemukakan alasan-alasan;
b)      dengan mengutarakan perincian-perincian;
c)      dengan mengetngahkan satu atau lebih contoh;
d)     dengan memperbandingkan mempertentangkan dua hal.(Albert (et al) 1961:35).


2.      Membaca Pilihan yang lebih Panjang

Kita membaca paragraf, kita sedang mencari pokok pikiran paragraf tersebut.Apa yang dikemukakan paragraf tersebut,menunjang pengembangan pikiran pokok dalam keseluruhan bab atau artikel.

Kemampuan untuk menghubung-hubungkan paragraf-paragraf tunggal dan kelompok-kelompok paragraf dengan penggalan keseluruhantulisan sangat penting dalam membaca teliti.Begitu pula kemampuan untuk membedakan , antara paragraf-paragraf yang memuat serta menyajikan ide ide pokok atau ide-ide utama menerangkan ide-ide pada paragraf terlebih dahulu.(Albert(et al)1961:44)

3.      Membuat Catatan

Siswa atau mahasiswa biasanya membuat catatan  mengenai tugas-tugas bacanya.Sebagai tambahan terhadap nilai catatan-catatan itu sendiri,proses aktual pembuatan catatan tersebut akan membantu kita dalam tiga hal penting, yaitu:
a)      menolong kita untuk memahami apa yang kita baca atau kita dengar;
b)      membuat kita terus-menerus mencari fakta-fakta dan ide-ide penting;
c)      membantu ingatan kita. Mencatat fakta-fakta serta ide-ide yang penting akan menanamkan kesan yang mendalam pada ingatan kita.



b.      Membaca Pemahaman

Membaca pemahaman yang dimaksud di sini adalah sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami:
1)      standar-standar atu norma-norma kesastraan (literary standards);
2)      resensi kritis (critical review);
3)      drama tulis (printed drama);
4)      pola-pola fiksi (pattrens of fiction).

1.      Standar Kesastraan

Kalau beratus-ratus pembaca yang serius berbuat hal yang sama selama kurun waktu yang cukup lamasecara berkesinambungan, jelaslahbahwa di sini ada suatu yang mengandung kebenaran dan keindahan, sesuatu yang memenuhi kebutuhan umat manusia, sesuatu yang berkesinambungan memengaruhi para pembaca lama setelah pengaragnya meniggal dunia.Dalam hal serupa inilah,kesusatraan itu tercipta.

Para penulis kreatif dalam bidang-bidang fiksi, drama,puisi, biografi,autobiografi,esai popuer,dan sebagainya memiliki pengalaman yang ingin disamapikan kepada pembaca.

Sebagai seniman kreatif, pengarang sangat sensitif terhadap kekuatan dan keindahan kata-kata.Dia sadar benar akan seluk belu serta keelikannya;dia memahami anekarona konotasi kata,dia dapat dengan cepat menciptakan serangkaian impresi atau kesan yang mendalam;dia dapat memeras kata-kata sehingga menjadi suatu kekuatan;dia dapat memperluas serta mengembangkannya demi pengayaan perincian,detail dan daya pesona,dia dapat menyusun kata-kata yang penuh semangat dan hebat untuk menciptakan efek-efek yang hebat,menyusun kata-kata yang teang untuk menciptakan kedamaian serta pemikiran yang mendalam;dia merupakan seorang ahli seni sihir dalam hal sugesti;dia dapat membangkitkan imaji-imaji yang hidup yang dapat membuat tulisan atau karya yang hanya baikdan yang benar-benar mengagumkan.(Tarigan 2008:59).

Kesusatraan dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, antar lain sebagai berikut:
a)      puisi atau prosa;
b)      fakta atai fiksi;
c)      klasik atau modern;
d)     subjektif atau objektif;
e)      eksposisi atau normatif.

2.      Resensi Kritis

Kita tidak punya banyak waktu untuk mebaca semua bahan bacaan.kita ingin menegtahui dan memerlukan informasi mengenai bahan bacaan yang sangat banyak.Resensi kritis dapat kita gunakan untuk mengetahui informasi tersebut.Rsensi kritis yang memuat tulisan singkat mengenai fiksi maupun non fiksi akan sangat membantu kita dalam mendapatkan informasi mengenai informasi terbaru dan pikiran-pikiran penulis di dunia.

Resensi juga bukan sekedar bahan referensi bagi para sarjana seperti di masa lalu.Resensi telah menjadi sarana yang sangat penting dalam dunia pendidikan.(Bachelor,Henry,and Salisbury,1951:2999;Salisbury,1955:402-403).

Demikian pentingnya resensi sebagai sarana mendapatkan informasi mengenai bahan bacaan.seorang pendidik akan sangat baik bila memiliki kekayaan wawasan dan pengetahuan yang luas mengenai bahan-bahan bacaan, bakat dan minat siswa.Salah satu cara adalah dengan membaca resensi.

3.      Drama Tulis

Berkaitan dengan masalah apresiasi,masalah pengertian dan penghargaan, ada dua cara untuk menikmati sebuah drama/sandiwara.Yang pertama adalah pada tingkatan aksi primitif, dalam hal ini penontonatau pemirsa merasakan bergetar karena ketegangan,kekejaman,sehingga menimbulkan keinginanbesar untuk melihat  bagimana cara itu diperankan.Yang kedua adalah tingkatan indvidual yang bersifat interpretatif, dalam hal inipembaca dapat menarik kesimpulan-kesimpulan, menvisualisasikan tokoh-tokoh, memproyeksikan akibat-akibat, serta mengadakan interpretasi-interpretasi ketika dia membaca,membawa kesempurnaan pengalamannya sendiri pada bacaan itu.(Tarigan 2008:63).

Seorang idealnya membaca drama terlebih dahulu baru kemudian pergi ke teater untuk menyaksikan pementasan drama tersebut.Dengan membaca drama tulis, seorang akan membangun konstruksi cerita dan emosi dalam pikirannya, menganalisis tokoh-tokoh dan mengabil suatu kesimpulan mengenai cerita dalam drama tersebut.orang tersebut akan melihat hal yang berbeda dari ia baca degan apa yang ia lihat di atas panggung.Hal inyang memiliki  adalah pengalaman yang berbeda.Pengalaman yang memiliki nilai masing-masing dalam ukurannya sendiri.

4.      Pola-pola fiksi

Fiksi adalah suatu istilah yag dipergunakan untuk membadakan uraian yang tidak bersifat historis, dengan penunjuk atau penekanan khusus pada segi sastranya.(Brooks, Purser and warren,1952:9).

Perbedaan utam antara fiksi dengan non fiksi terletakpada tujuan. Maksud dan tujuan dari cerita non fiksi adaah untuk menciptakan kembali apa yang telah terjadi secara aktual.Sementara fiksi mencoba memulai dengan mengatakan “seandainya”,memusatkan perhatian sepenuhnya pada realitas.

Kesimpulannya adalah bahwa cerita non fiksi bersifat aktualitas.Aktualitas adalah apa yang benar-benar terjadi;sedangkan realitas adalah apa-apa yang dapat terjadi.(Tarigan;1978:7-8).

a.       Unsur-unsur Fiksi

Dalam penulisan fiksi perlu diperhatikan prinsip-prinsip serta masakah-masalah berikut ini:
1)      permulaan dan eksposisi (beginning and exposition);
2)      pemeriaan dan latar (description and setting);
3)      suasana (atmosphere);
4)      pilihan dan saran (selection and suggetion);
5)      saat penting (key moment);
6)      puncak,klimaks (climx);
7)      pertentangan, konflik (conflict);
8)      rintangan , komplikasi (comlication);
9)      pola atau model (pattern or design);
10)  kesudahan;kesimpulan (denoument);
11)  tokoh dan aksi (character and actionI);
12)  pusat minat (focus of interest);
13)  Pusat tokoh (focis of c9haracter);
14)  pusat narasi (focus of naration);
15)  jarak (distance);
16)  skala (scale);
17)  langkah (pace);(Brook and Warren, 1959:644-8,dalam Tarigan 2008 :78-8).

Khusus bagi suatu cerita pendek yang lengkap,maka unsur-unsur di bawah ini harus dimiliki:
1)      tema (theeme);
2)      plot, perangkap atau konflik dramatik;
3)      pelukisan watak (character deleneation);
4)      ketegangan dan pembayangan (suspace and foreshadowing);
5)      kesegaran dan suasana (immedicy and atmosphere);
6)      point of veiw;
7)      fokus terbatas dan kesatan (liited fokus and unity).(Lubis,1960:14 dalam Tarigan 2008:78).



           
           







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar